Kepemimpinan Semut

Semut. Hewan kecil ini diabadikan Al-Qur’an menjadi nama sebuah surat, yaitu An-Naml surat ke 27. Di sini berkisah tentang kepemimpinan dan manajemen . Kita perlu belajar kepemimpinan dan manajemen dari semut. Bagaimanaakah kepemimpinan dan manajementalia semut? Mari kita simak.
1. Teratur
Menurut Wikipedia, semut adalah serangga anggota suku Formicidae, bangsa Hymenoptera. Semut memiliki lebih dari 12.000 spesies, sebagian besar hidup di kawasan tropika. Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur beranggotakan ribuan semut per koloni. Anggota koloni terbagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Dimiliki pula oleh grup semut penjaga. Satu koloni yang bisa mendukung daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka. Koloni semut kadangkala disebut “superorganisme” karena koloni-koloni yang membentuk suatu kesatuan.
Kita bisa belajar dari semut agar kita bisa hidup teratur. Dengan perbedaan sosial yang kita miliki, kita dapat mengubah dengan keteraturan bukan malah tabrakan karena egoisme kesukuan atau ego pribadi. Kita bisa saling menolong dalam Konservasi sosial kita.
Dalam manajemen pun kita harus teratur. Karena inti dari manajemen adalah keteraturan. Mulai dari penempatan SDM, Optimasi kompetensi, aturan main, dan sistem kerja harus ditata mungkin.
2. Kuat
Meskipun ukurannya relatif kecil, semut termasuk hewan terkuat di dunia. Semut jantan mampu menopang beban dengan berat lima puluh kali dari berat badannya sendiri, dapat dibandingkan dengan gajah yang hanya mampu menopang beban dengan berat dua kali dari berat badannya sendiri. Semut hanya tersaingi oleh kumbang badak yang mampu menopang beban dengan berat 850 kali berat badannya sendiri.
Perjalanannya yang panjang dalam mencari rezeki menempanya untuk menjadi kuat. Maka kita pun jangan mudah putus asa dalam mencari rezeki. Sejauh apapun perjalanan rezeki kita dan seberat apapun rezeki dan beban hidup kita kita harus kuat menghadapinya. Jangan lari dari masalah. Semut saja sanggup menopang 50× beban berat yang lebih berat dari tubuhnya, maka segala yang diamanahkan kepada kita terutama isteri, anak-anak, keluarga besar, pekerjaan, umat dan dakwah serta problem bangsa harus sanggup kita hadapi dengan kuat.
3. Terkomando
Al-Qur’an mengungkap pembicaraan Ratu Semut dengan pasukannya.
Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18)
Gaya bicaranya jelas gaya instruksi militeristik. Cirinya adalah instruksi lebih dahulu alasan kemudian. Kalau sipil cirinya adalah alasan lebih dahulu jika disepakati baru diinstruksikan. Kepemimpinan militer jika terlalu banyak diskusi maka bisa berujung debat dan adu senjata bila pendapatnya dibantah apalagi disalah-salahi. Karena itu di militer tentara harus selalu siap dan menanggapi apapun dengan kata “Siap!”
Semut yang strata sosialnya berjenjang dan lebih dominan tentara maka pendekatan komunikasinya pun cenderung instruksional. Perintah.
Diawali dengan kalimat seruan, “Wahai semut sekalian!” Disambut “Siap!”
Lalu kalimat perintah, “Masuklah kalian ke sarang-sarang kalian!” Disambut “Siap!”
Diakhiri kalimat penutup yang penuh argumentasi, “Agar kalian tidak terinjak Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”
Jadi fakta sosial semut yang beragam jenis itu pun di dalamnya terbangun kepemimpinan dan komunikasi yang efektif. Ini bisa kita contoh. Dalam kaidah kepemimpinan situasional kita harus bisa memerankan efektifitas leadership yang dibutuhkan saat itu. Seperti dalam kondisi kegentingan maka bukan lagi gaya sipil penuh perdebatan yang digunakan tapi gaya militeristik yang instruksional agar efektif. Begitu juga dalam membina mental anak terkadang instruksi yang jelas lebih dibutuhkan untuk kecekatan dan progresifitas anak karena di usia tertentu anak akan ikut perintah orang tua terlebih dahulu ketimbang kebanyakan mikir. Di usia beranjak dewasa baru anak lebih banyak berpikir seiring dengan pertumbuhannya.
4. Mudah beradaptasi & pandai Memprediksi
Semut mudah beradaptasi baik di musim panas maupun musim hujan. Semut produktif di musim panas. Di musim hujan justru berkembang biak lebih banyak. Biasanya semut jantan akan mati setelah membuahi semut betina. Semut betina terus hidup dengan berjuang melanjutkan masa reproduksinya. Bahkan tetap hidup setelah melewati musim hujan kendati sayapnya mulai banyak yang hilang.
Pernahkah Anda melihat di pagi hari semut bergerombolan datang ke rumah Anda padahal hari itu biasa saja tidak ada hujan? Bahkan sebelumnya jarang ada semut masuk ke rumah. MasyaAllah ternyata di sore hari itu terjadi hujan lebat. Semut yang transmigrasi itu dengan izin Allah bisa memprediksi kapan terjadi hujan yang karenanya mereka akan mencari tempat teduh yang tinggi menghindari dampak hujan yang lebih berbahaya, menghancurkan sarang mereka dan tenggelam dalam banjir.
Dalam hidup pun kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan perubahan yang terjadi. Dalam hal leadership kita tidak saja harus memiliki skill (keterampilan) tetapi juga life skill (keterampilan hidup). Tidak saja kompetensi keahlian spesial kita melainkan juga kemampuan bertahan hidup yang cenderung berubah-ubah. Di sini kita harus bisa memprediksi masa depan lingkungan kita dan menyiapkan diri menghadapi berbagai perubahan.
5. Kompak dan rajin salaman
Apakah Anda pernah diserang semut merah hingga kulit bentol-bentol, gatal ga karuan? Semut marah dan menyerang apabila dia dalam kondisi bahaya atau merasa terancam. Semut pun akan kompak melawan sumber ancamannya.
Semut kompak tidak saja ketika dalam bahaya tapi dalam kondisi normal pun semut menampilkan kekompakkannya. Bila Anda pernah melihat semut berbaris panjang itu adalah semut tentara. Semut tentara akan mendeteksi keberadaan makanan yang manis-manis, atau yang bukan manis tapi bisa dimakan. Makanan itu ada yang diangkut beramai-ramai ada juga dilahapnya. Perut semut ada 2 rongga, lambung pencernaan dan rongga penyimpanan yang hanya akan dikeluarkan bila ada semut yang kelaparan maka dia akan memuntahkannya. Semut yang lapar akan menyentuh antena kepala semut yang kekenyangan.
Jika kita pernah melihat semut bersalaman itu pertanda semut sedang berkomunikasi. Semut biasa mengkomunikasikan sumber makanan, bahaya, dan perintah-perintah lainnya.
Sebagai manusia berakal sehat dan berhati kita perlu mencontoh kebaikan yang ditampilkan oleh semut ini. Kepemimpinan, kekompakkan, kepedulian, menjaga silaturrahim, kuat, dan mudah beradaptasi dengan memprediksi masa depan lingkungan kita ini adalah sifat dasar dan positif untuk kita amalkan dalam kehidupan manusia.
Ala kulli hal, semut adalah hamba Allah yang menyenangkan, tidak peduli yang kecil, tapi keberpihakannya jelas pada kebaikan dan kebenaran. Seperti yang dikisahkan, semut-semut yang dibawa membawa udara untuk memadamkan api Raja Namrud yang membakar nabi Ibrahim. Semut itu sadar menyebutir udara tidak akan bisa memadamkan gelora api yang besar itu, tapi tekad dan usahanya untuk memadamkan api yang besar itu yang diperintahkan Allah swt ke mana keberpihakan semut atas nabi-Nya yang dizalimi. Pastikan kita selalu pada kebenaran kendati usaha kita tidak layak dengan api kezaliman yang membara di mana-mana. Allohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *